Friday, 26 August 2016

Di Subulussalam cinta itu di semai..


Membahas tentang anak, tidak akan habis-habisnya dibicarakan. Berbagai tipe anak bisa diliat kesehariannnya bersama kita di asrama. Mulai dari manja sekali sampai mandiri dan cuek sekali, semua itu akan mudah ditemukan. Itulah santri, dengan berbagai dinamika pemikirannya. Mereka tumbuh dan berkembang dalam lingkungan PPM Subulussalam. Tugas kita memberikan pendampingan kepada mereka. Ustadz/Ustadzah yang super yang selalu setia bersama santri siang dan malam di asrama. Kadangkala mereka menjadi Guru bagi santri, kadangkala menjadi orang tua, dan kadangkala disaat yang sama mereka menjadi babysitter. Tidak mudah memang menghadapi santri yang berjumlah lebih 200an, sebanyak anak sebanyak itu pula tingkah lakunya. Bahkan satu anak saja berbagai macam tingkah lakunya. Salut untuk ustadz/ustadzah, mereka pahlawan yang berusaha merubah dengan sekuat tenaga kata “lelah” menjadi “lillah”.

Santri kelas VII melewati fase-fase yang sulit di Asrama, jika Ustadz/ustadzah tidak sabar menghadapi tingkah mereka, bisa stress setiap hari, minimal menurun berat badan. Kelas VII merupakan fase dimana mereka melewati masa frustasi dan adaptasi. Perubahan masa dari SD ke SMP penuh lika-liku yang harus kita pahami dan sikapi secara bijak. Maka tak heran kadang kita tengok ada santri yang takut tidur gelap, ada santri yang betah berlama-lama di teras masjid memandang ke arah jalan hanya untuk melihat orang tuanya yang harapkan datang untuk melihatnya ke pondok. Bahkan ada santri yang ngompol.. :D disaat-saat seperti inilah ustadz/ustadzah di asrama berubah menjadi orang tua yang memberikan kasih sayang dan kenyamanan kepada mereka. Mereka butuh cinta kita.
Lain kelas VII lain pula kelas VIII, kelas VIII dimana masa pubertas sedang melanda anak-anak kita. Di fase ini kesabaran tingkat tinggi diperlihatkan oleh ustadz/ustadzah kita. Berbagai tingkah pola akan ditemui, santri berdandan lama-lama, sering di depan cermin, sisir rambut yang rapi sekali, mencari perhatian lawan jenis. Ini merupakan sebagian kecil perubahan sikap mereka yang dengan mudah kita temukan pada santri kelas VIII.

Di kelas IX merupakan masa yang relatif tenang, bukan berarti mereka tanpa masalah. Relatif tenang karena fokus santri untuk ujian akhir. Sebagian mereka sudah habis masa pubertasnya. Tapi kadangkala ada juga santri yang “diam-diam menghanyutkan”. Kewaspadaan ustadz/ustadzah lebih ditingkatkan di fase ini.

Bagaimanapun tingkah laku mereka yang berbeda-beda di tiap fasenya, kadang membuat kita terhibur, kadang membuat kita emosi, kadang membuat kita frustasi dan kadangkala membuat kita tak bisa menahan diri. Pada akhirnya mereka adalah anak-anak kita, walaupun mereka tidak kita yang melahirkan tetapi mereka besar, tumbuh, berkembang berada pada kita. Baik buruknya perkembangan mereka, itu tanggung jawab kita bersama. Mari kita lukiskan di hati mereka tentang optimisme hidup, mari kita tanamkan di jiwa mereka kepedulian terhadap sesama. Kita semaikan bibit-bibit cinta dan kemandirian. Selamat berjuang ustadz/ustadzah, Allah bersama kita. #SepenuhHariSepenuhHati.

Lubuk Pandan, 26 Agustus 2016

1 comment:

Terima Kasih Banyak Atas Komentarnya... Jangan Lupa Baca Artikel Yang Lain Ya.... :)